Ruang Publik Sebagai Tengaran Sosial, Punyakah Kita?

Edited and Published in Loma Bandung Magazine, 1st Edition

Kota Bandung saat ini memiliki jembatan layang  yang menjadi tengaran (landmark) sekaligus kebanggaan Kota Bandung. Jembatan layang yang mulai dibangun tahun 1999 dan selesai pada tahun 2005 ini sempat mengalami penundaan konstruksi, namun akhirnya selesai dan berdiri pada bulan Mei 2005.

                

Sebagai jembatan layang yang menjadi bagian dari pembangunan sarana transportasi Kota Bandung, jembatan layang Pasupati ini sejak awal perencanaannya mengalami banyak pro-kontra. Mulai dari bentuk jembatan yang waktu itu dianggap terlalu extravagant, cerita tentang penebangan pohon di sepanjang pinggir jalan Surapati sampai jalan Pasteur sampai pada kisah pembebasan tanah yang akan dilewati jembatan itu sendiri. Konstruksi jembatan yang dikabarkan sebagai konstruksi jembatan terbaru di Indonesia (menggunakan sistem konstruksi kabel yang ditegangkan) sekaligus juga memiliki makna filosofis yaitu melambangkan bentuk alat musik khas tradisional Jawa Barat/Sunda yaitu kecapi dan suling. Setelah melewati sekian banyak kisah dan cerita yang tidak semuanya menyenangkan, tentunya terbit banyak pengharapan positif dari terlaksananya jembatan ini sebagai jembatan layang pertama di Kota Bandung.

Tengaran (Landmark) adalah obyek yang dijadikan sebagai patokan untuk menandakan suatu daerah atau kawasan. Tengaran ini seringkali dikaitkan dengan arsitektur bangunan, tugu atau monument dan juga patung atau karya seni besar yang bersifat publik. Tengaran juga seringkali diasosiasikan dengan kawasan atau kota dimana obyek itu berada. Seperti Bandung yang terkenal dengan Gedung Sate-nya atau Jakarta yang terkenal dengan Monas. Pemaknaan tengaran sebagai tanda satu kawasan juga bisa dilakukan demi kepentingan politis atau pemerintahan, seperti pembangunan Monumen Bandung Lautan Api di Jalan Dipati Ukur yang mempunyai sumbu lurus dengan Gedung Sate. Penciptaan tengaran-tengaran seperti ini memang dilakukan untuk memaknai arti penting pihak penguasa atau pengelola kota terhadap kotanya sendiri. Di Kota Bandung terdapat beberapa tengaran yang ditasbihkan dengan cara ini, seperti juga misalnya Alun-Alun Bandung di muka Masjid Agung. Namun, karena tujuan awalnya adalah demi kepentingan pengelola kota semata, seringkali fungsi publik dari tengaran-tengaran seperti ini tidak bermanfaat secara optimal. Seperti misalnya fungsi publik dari Monumen Bandung  Lautan Api yang seharusnya sebagai taman publik malah tidak bisa diakses dan digunakan oleh masyarakat karena diberi pagar. Berlawanan dengan itu, masyarakat sendiri sepertinya malah sudah mampu mengapresiasi ruang publik dan secara tidak langsung bersepakat menjadikan beberapa area atau ruang publik sebagai tengaran yang lebih bersifat sosial. Penggunaan ruang-ruang terbuka secara aktif juga dapat diartikan sebagai satu usaha untuk menjadikannya sebagai tengaran.

Satu fenomena yang menarik dari Jembatan Layang Pasupati adalah kegiatan informal yang dilakukan oleh masyarakat di tepi jembatan tepat di sisi struktur besar kecapi suling persis di atas Kebon Bibit. Saat pertama kali dibuka sebelum diresmikan, masyarakat berbondong-bondong mendatangi jembatan ini, digunakan sebagai area jogging atau lari pagi, juga sekedar sebagai tempat untuk memandang suasana kota dari atasnya. Pemaknaan ruang di sisi jalan (yang ditujukan sebagai bahu jalan dan bukan untuk digunakan oleh pejalan kaki) oleh masyarakat Bandung tentu menjadi hal yang menarik dan menyenangkan untuk dilakukan. Bahkan saat itu , dimana jembatan belum bias dimasuki oleh kendaran bermotor, jembatan ini dimanfaatkan sebagai jalan memintas dari daerah Pasteur menuju Lapangan Gasibu Bandung oleh para pejalan kaki dan tukang jualan pikulan atau gerobak. Keriaan masyarakat saat menggunakan jembatan itu seolah-olah dapat menghapuskan segala sentiment negatif yang terus bermunculan pada saat perencanaan maupun konstruksinya dilakukan.   Dialog-dialog seperti “Kepingin nyobain jalan layang, euy” atau “Wah, dari sini bisa keliatan rumah kita lho, bu” menambah antusiasme dan keriaan suasana. Pemandangan Kota Bandung dari atas yang selama ini menjadi kemewahan yang hanya bisa dicapai dengan mendatangi restoran-restoran di Dago Pakar seolah-olah sejenak menjadi milik bersama seluruh masyarakat. Pada saat itulah (sejenak) masyarakat mentahbiskan jembatan ini sebagai tengaran sosial, yaitu tengaran yang menjadi kesepakatan bersama untuk menjadi identitas atau pengarah satu kawasan.

Aktivitas-aktivitas yang masih sering dilakukan di pinggir Jembatan Layang Pasupati ini menandakan akan kerinduan masyarakat akan ruang terbuka publik yang sehat, nyaman dan bisa dipakai sebagai ruang mengapresiasi kondisi kotanya sendiri. Memandang ke arah lembah Cihampelas di kala matahari terbenam tentu akan menjadi satu kemewahan yang sekaligus nostalgik bagi pasangan-pasangan yang sedang bercinta. Kerinduan dan kehausan akan ruang-ruang seperti itu tampaknya memang belum bisa sepenuhnya terpenuhi oleh kota kita tercinta ini. Sejak tahun lalu kota kita memang akhirnya memiliki ruang komersial terbuka yang bisa dimanfaatkan sebagai ruang publik dengan dibukanya Cihampelas Walk, namun, walau bagaimanapun ruang-ruang yang tercipta adalah ruang-ruang semi komersial, dimana ruang terbuka yang tercipta diapit oleh toko-toko dan restoran-restoran dengan harga tertentu demi kepentingan komersial. Ruang-ruang ini tentu belum bisa dianggap sebagai ruang publik yang sepenuhnya. Bila kita tengok sedikit pada kondisi di luar negeri yang kaya akan ruang publik, sering kali kita merasa iri. Piazza San Marco di Venice, Central Park di New York atau Park De La Vilette di Paris adalah contoh dari beberapa taman dan ruang terbuka yang bisa memuaskan dahaga warga kotanya akan ruang aktivitas di udara terbuka. Sedikit lebih dekat lagi, di Singapore para wisatawan dari Indonesia seringkali terpesona oleh suasana plaza di Restoran Chijmes atau tempat duduk dengan meja caturnya di jembatan Old Chinatown. Seorang rekan arsitek yang baru saja pulang dari Singapore cerita panjang lebar tentang bagaimana kota itu penuh dengan ruang-ruang publik yang bisa diakses sepenuhnya oleh warga kota, serta bagaimana irinya dia melihat pasangan-pasangan berpacaran di jembatan di sisi Gedung Esplanade tanpa merasa harus membeli sesuatu atau membayar tiket. Ruang-ruang publik serupa yang sering kita temukan saat menonton drama-drama serial dari Korea di layar kaca. Ruang-ruang dimana aktivitas dan kegiatan masyarakat bisa dilakukan secara bebas, tidak ada tuntutan ekonomi dan menjadikan ruang kota sebagai sarana hiburan yang sehat.

Jembatan Layang Pasupati sebagai sarana transportasi vital Kota Bandung sebenarnya bisa menjadi tengaran bagi seluruh masyarakat kota, tidak hanya bagi pengendara mobil dan motor, terlebih lagi bila ada sisi-sisi dari jembatan yang bisa dipakai sebagai tempat nongkrong. Sudah saatnya kota kita bisa mewadahi kebutuhan nongkrong dan kongkow-kongkow yang tidak mengeluarkan banyak biaya tapi masih terasa sehat dan menyenangkan. Kondisi saat ini dimana banyak orang yang duduk-duduk atau berdiri-berdiri di sisi jembatan bisa dianggap membahayakan adalah hal yang lumrah, karena memang secara fungsional kegiatan itu dapat membahayakan nyawa mereka sendiri atau bahkan mengganggu lalu lintas kendaraan di sampingnya. Namun kerinduan masyarakat akan ruang publik serta potensi jembatan layang ini untuk menjadi tempat nongkrong seharusnya bisa menghasilkan sinergi yang akomodatif terhadap semua lapisan masyarakat. Berkaca dari pengalaman ini, alangkah baiknya apabila masyarakat bisa dilibatkan pada perencanaan-perencanaan berskala publik dan melibatkan kepentingan masyarakat sendiri. Tengaran sebagai ruang publik berarti menciptakan wadah-wadah aktivitas baru. Ruang publik sebagai wadah aktivitas yang sehat dan tidak mahal berarti meningkatkan apresiasi warga kota terhadap kotanya sendiri. Kota Bandung jelas memilik banyak tengaran dan ruang publik, salah satunya adalah Jembatan Layang Pasupati, namun tengaran dan ruang publik yang bisa menjadi wadah aktivitas sosial yang sehat, punyakah kita?

Bandung Metropolization : A Transition in Urban Identity

An Abstract, Translated By Anissa Sukmawati Febrina

Bandung, a hilly city of more than 700 meters above sea level was not only famous as West Java’s -- the third largest province in Java -- capital city. Previously known as a breezy getaway city developed in radial concentric pattern, Bandung has now grown to be a creative hub that becomes the benchmark of musical and fashion trends in Indonesia. Weekends in

Bandung are days filled with youngsters throwing festivities. These phenomena have attracted local tourists to spend their holidays in the city, making it now a central for tourism with a spark of creativity.

In the post millennium era, Bandung’s development led to a tendency towards making it a metropolist. Mall and trade center projects have been current development options since it is considered a highly potential magnet for tourists. The current fact is that the needs of those tourists could be satiated by luxurious giant malls and trade centers. Nevertheless, it did bring more people coming to the city, triggering its prevailing traffic woes. At this point, Bandung seems to need the infrastructure required by a metropolist, the kind of need that has never been thought of when it originally developed as a resort city.

Pasupati flyover project seemed to have marked the new beginning of Bandung’s path towards being a metropolist. An enormous change occurred, led by the destruction of the city’s environment – the cutting off of trees along Surapati and Pasteur -- needed to provide space for the flyover. Furthermore, there was not enough space provided between the highway and housing complexes nearby, ruining the balance of the city’s life. The creative city has been forced to turn into a metropolist.

With such development tendency, there is a possibility that

Bandung will suffer from a super-modern development concept. Can it maintain its original distinctly creative identity?

Is metropolizing a must? Or is it just part of the shifting process of the so-called third world to be integrated in the global capitalism?

Developing a city within its context is an unquestionable idealism, but its realization needs a well-cooperated community, the city administration and urban designers. At the end, what can we really do?

...

Rabu, 4 Januari 2006

03.47

What happen to me?

Is It a Silly Question?

Minggu, 1 Januari 2006

16.43

Do you like her for her popularity? Or truly for her honesty?

Did you want her because of her reputation? Or truly for her kindness?

Do you love her just to get a trophy? Or really to make her happy?

Can I answer that question? What kind of silly question is that? Anehkah, ketika pertama kali memandang wajahnya, yang terbayang adalah lenggak-lenggoknya di atas panggung, suara merdunya di cakram rekaman, atau pose-posenya di majalah wanita? Bukankah cinta datang dari setiap penjuru, dengan segala caranya? Dosakah kita bila mencintai karena ‘dia’ terkenal? Atau karena prestasinya tinggi? Lalu gimana kalau tiba-tiba kita sedang jalan-jalan di Kowloon tiba-tiba bertemu pandang dengan Gillian Chung, misalnya? Lalu saling jatuh cinta. Salahkah? Mungkin pertanyaannya bukan itu, tapi lebih tepat, mungkinkah? Hahahahahaha… Ups, let’s get back to the topic. About Gillian Chung, ..no no,..it’s not that.

Sekali waktu, teman gue pernah bilang, “gak usah mencari-cari cinta, yang penting kerja keras aja, ntar juga kalo kita udah kaya dan terkenal cewe-cewe pasti nyamperin..”. Logis. Masuk akal. Kenapa gak? Bukankah itu nilai lebih yang kita punya?

Setelah kerja keras yang melambungkan nama dan menggemukkan kantong, bukankah pasti ada ribuan (gak juga sih, ratusan, atau belasan tepatnya, atau beberapa lah..) wanita yang mengantri untuk kita? Yup, belum lagi kalau dihitung dengan ribuan (ah, terlalu membesar-besarkan, beberapa lah..) ibu-ibu yang anak gadisnya sudah di usia siap dipinang dan ingin punya menantu terkenal, kaya dan (kelihatan) ganteng (karena propertinya). It is right, isn’t it? Money can buy you anything. Yup, memangnya karena apa tokoh wayang Arjuna yang konon terkenal ganteng dan sakti mandraguna bisa punya istri ratusan? Tentu karena kerja keras (belajar sakti mandraguna) dan kebetulan parasnya ganteng dan dia adalah adik Prabu Yudhistira pewaris tahta Astina. Apakah itu adil? Tentu. Tidak ada yang salah dalam mendapatkan cinta, bahkan dengan uang sekalipun. Is it?

Ada lagi temen gue yang lain bilang:”If you just want to impressed a girl you like so much, then there’s no true love for you”. Deg. Mengagetkan. Apa iya? Kan gue berusaha mati-matian menyenangkan ‘dia’ bukan cuma demi impresi semata.

“Iya, emang sih, tapi yang keliatan tu gitu”. Lho, terus gimana?

“Cobalah untuk mencinta dengan tulus, jangan terlalu memaksa, jangan berlebihan, biarkan dia bahagia terbang dengan sayapnya, pastikan kalo loe ada di sisinya saat sayapnya patah”. Kalo sayapnya gak pernah patah?

“Pastikan dia bisa terbang lebih tinggi, dukung dia dengan-paling tidak-senyuman dan tatapan mata percaya”. Is that it?

Lalu kemana semua kerja keras dan hasilnya itu? Buat apa kita mati-matian mencapai ketenaran dan  kekayaan kalau hanya dengan begitu kita bisa meraih hati ‘dia’? Ah, benarkah ‘hanya dengan itu’? Gue pernah, berulang kali dan masih terus berusaha. ‘Hanya dengan itu’ bukan sesuatu yang mudah. Jauh lebih mudah membuatnya terkesan dengan segala prestasi dan segala yang kita raih dengan kerja keras. Shania Twain juga pernah bilang : “So, you’re Brad Pitt? Rocket scientists? It don’t impress me much”. Is it?

Kalau sekarang gue ditanya, kenapa lo suka, sayang, cinta ama dia? Gue gak bisa jawab. Why do you love her? Just because. Itu jawabnya. I just feel it, feel it right. Is it acceptable? Atau gue harus kasih alasan yang panjang dan berbelit-belit, cuma untuk menenangkan perasaannya? Ah, apakah benar ‘dia’ tenang kalau tahu semua alasan gue mencintai’nya’? Cinta sesuatu yang rumit. Dia bisa bagai kilat menyambar di siang hari, begitu saja. Atau tumbuh pelan-pelan karena terbiasa. Atau berbalik dari benci menjadi cinta. Apa ada rumus kimia yang bisa menerangkannya? Apakah memang ada prasyarat buat mencinta atau dicinta? Ada satu cerita menggelikan (sekaligus mengharukan) dari temen gue tentang cerita gimana dahulu kedua orangtuanya saling setuju untuk menikah dan hidup bersama (dan tentu mencinta selama hidupnya). Konon, kedua orang itu baru saling kenal, tidak lebih dari 2 bulan, lalu sang perjaka kontan melamar si gadis di hadapan orangtuanya, dan ketika orang tua (si gadis) bertanya apa yang membuat sang perjaka berani (cenderung nekad) melamar? Jawabnya sederhana : “Abdi tos teu kiat..”. Jawaban polos yang tidak rasional atau romantis sama sekali. Lalu apa yang membuat si gadis mau menerima (tentu diterima, karena anaknya yang belakangan cerita sama gue) pinangan perjaka polos (atau bodoh) itu? Karena si gadis yakin. Saat perkenalan yang cuma sesaat (kurang dari dua bulan, bandingkan dengan pacaran generasi kita sekarang yang bisa sampai 5 tahun dan tidak nikah-nikah juga!) tidak menghalangi perasaan dan intuisi si gadis untuk mengenali bahwa memang si perjaka lah jodohnya. Just feels right! Ha, pasti loe semua bertanya-tanya, apa si perjaka itu waktu itu sudah kaya atau terkenal atau punya kelebihan fisik luar biasa? Tidak! Sedikit pun tidak. Apa mereka berdua menyesal? Tidak tahu, yang jelas sekarang mereka bisa membina keluarga bahagia, rukun dan tentram. Is it marvelous?

 

So, what’s the point of babbling blah blah blah? Setiap orang punya cara mencinta. Tidak ada yang salah, tidak ada yang manipulatif, tidak ada yang curang, bahkan tidak ada yang benar. Yang ada hanya cocok atau tidak. Memilih cara untuk mendekatinya dan mencintainya adalah jalan untuk meraih hatinya, bukan sekedar strategi untuk memenangkan perang. It’s not a war between you and her or you and him. A war only exists in your head, is it to win a trophy and feel proud or make yourself as a part of her/his happiness. So, there’s no winner or loser. If I do feel like a loser, it’s because I intend to win the war against her from the first time. And since it’s a play, there’s no pure love in it. Is it?

Ari Lasso once said : “Touch her by heart, she will be yours forever”. I believe that. For the love of my (rest) life, I just wanna sit near to you, looking deep into your eyes, holding your hands, flying with your soul, and say : I’m here for you.

“Kupu-Kupu Malam”

Minggu, 1 Januari 2006

16.34

“Kupu-Kupu Malam”

Ada yang benci dirinya/Ada yang butuh dirinya/Ada yang berlutut mencintanya/Ada pula yang kejam menyiksa dirinya/Ini hidup wanita si kupu-kupu malam/Bekerja bertaruh jiwa raga/Bibir senyum kata halus merayu memanja/Kepada setiap mereka yang datang/Dosakah yang dia kerjakan?/Sucikah mereka yang datang?/Kadang dia tersenyum dalam tangis/Kadang dia menangis di dalam senyuman/Apa yang terjadi, terjadilah/Yang dia tahu Tuhan penyayang umatnya/Apa yang terjadi, terjadilah/Yang dia tahu hanyalah menyambung nyawa

It’s New Year

It’s a new year. So what’s the different? People said with the coming of new year, there’s came a new hope, new chance. I believe that new hope always come everyday, every second of our life, in every heartbeat. I believe that we’re all fight to the world through pray, hard work and love. Everyday, over and over.

So what’s the different? 

Mi’raj/Mi’raj/Mi’raj

Rabu, 2 November 2005

Malam ini malam takbiran,

Di televisi bertabur belasan bintang,

Yang ikut meramaikan suasana bertakbir,

Semua lebur di sini,

Apakah kita sudah bisa lebur?

Ikhlas serta dalam arus putaran Ilahi,

Lupakan sejenak segala beban itu,

Segala pekerjaan, proyek dan laporan,

Lupakan sejenak bacaan-bacaan itu, Umberto Eco dan “Bumi Manusia”,

Tinggalkan sejenak semua kesenangan itu, Peter Pan dan Charlene Choi,

Pejamkan matamu sejenak,

Pandanglah Ia dalam cahayaNya,

Bisakah kau melihatNya?

Segumpal cahaya menerangi batin, seberkas sinar menyilaukan mata,

Atau hanya sebentuk mahkota berduri yang menyala,

Bisakah kau melihatNya?

Ah, jikala Ia belum juga terlihat,

Pejamkanlah matamu sekali lagi,

Tinggalkan segala indra tubuh ini,

Pejamlah, pejam,

Bismillah…

This Earth Of Mankind

Rabu, 2 November 2005

Bm_2

Book Review #1 – “Bumi Manusia” (Pramoedya Ananta Toer)

Penerbit Hasta Mitra

In the beginning of all growth, everything is imitated

(“ This Earth Of Mankind”, Pramoedya Ananta Toer, Penguin Publisher)

The most influential book in my life! Gue pertama kali baca buku ini di umur gue yang ke-16. Di usia yang masih seumur jagung itu gue berkenalan dengan perjalanan hidup seorang Minke, di usia yang kurang lebih sama, dalam memperjuangkan hidup dan cintanya. “Bumi Manusia” merupakan salah satu roman sejarah terpenting dalam perjalanan sastra Indonesia. Tidak saja karena ia menceritakan perjalanan hidup dari seorang tokoh pers yang sangat penting (dan terlupakan), pergolakan hidup seorang raden mas menjadi pejuang bangsa dan mengecap julukan simpanan Nyai. Tapi roman ini juga jadi penting karena konsistensi berbahasa dan gaya penuturannya yang luar biasa kuat. Sebagai buku pertama dari serial kuartet (kwartenarius) terpenting karya Pramoedya, roman ini menjadi titik awal dari penggambaran seorang pribumi jawa, tepatnya priyayi, yang menentang ke-priyayi-annya sendiri, melawan kekejaman dunia kolonial Hindia-Belanda di awal abad 20. Dan ternyata ia tidak berdaya tanpa gelar feodalnya itu. Titik awal perjalanan seorang pejuang yang menjadi sadar bahwa berjuang lewat pena sama berharganya dengan mengangkat bedil.

Roman ini sangat menginspirasi, tidak hanya bagi penulis dan jurnalis, tapi juga bagi seorang Ardzuna Sinaga, gue sendiri, untuk punya jiwa sosial(is) dan membela. Jauh sejak kisah hidup itu mulai dilakoni, hampir se-abad  kemudian, di usia yang sama dengan sang tokoh, Raden Mas Minke, ternyata gue belum bisa membuat negeri jadi lebih baik, tidak setitik pun. Perjuangan pribumi jawa yang harus rela dikatai “monyet” oleh bangsa kekasihnya sendiri, mempertahankan cintanya pada gadis Indo berayah Belanda yang konon titisan putri belanda, tidak bisa disangkal membangkitkan romantisme patriotik pada jiwa pemuda-pemuda yang sedang mencinta. Tidak sekedar berperang melawan satu keluarga dengan mengangkat pistol (seperti yang digambarkan Baz Luhrman) layaknya Romeo melawan Montague (or Capulet? I forgot…hehehehe), tapi malahan berperang dengan mulut dan kata-kata mempertahankan harga diri dan hak miliknya melawan penindasan budaya (yang bahkan dilakukan oleh ayahandanya sendiri) dan tekanan sosial dari kondisi pada saat itu. Sepenggal perjuangan hidup pemuda di usia seumur jagung. Juga seperti kisah Romeo-Juliet yang berakhir tragis, roman ini tetap meletakkan landasan ceritanya pada moral : berjuang! Tidak seperti Romeo yang minum racun demi menyusul kematian sang kekasih (yang ternyata belum mati, how silly…), sang raden mas, dalam kepedihan dan kepiluannya dihibur oleh ibunda sang kekasih dengan kata-kata :

“Kita telah berjuang, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya”.

Buku ini layak dibaca oleh semua kalangan, terutama pemuda yang konon katanya adalah harapan bangsa. Tetap memikat dan menggoda untuk terus dibaca, walau tanpa eksploitasi seksual berlebihan, satu kekuatan yang dimiliki Pram dibanding para pujangga seangkatannya. Walau (sempat) dilarang oleh pihak berkuasa, dan dikatakan bahwa Pram adalah tirani sastra yang ‘membunuh’ banyak pujangga di jamannya, di luar segala sepak terjang politik pengarangnya sendiri, “Bumi Manusia” telah menjadi satu karya terpenting yang terukir dalam di khasanah sastra Indonesia. Jauh dari perangkap manis kisah-kisah cinta picisan ala chicklit masa kini, pembaca “Bumi Manusia” niscaya tidak akan pernah lupa hubungan ala platonik antara seorang pribumi jawa dengan Annelies seorang gadis Indo ber’kecantikan kreol’.

Public Space = Vacant Land + Commercial, Is it --> Public Space = Economic Space?

Minggu, 30 Oktober 2005

City Reading#2 – Kepatihan (lagi..)

Jalan di mana terletak Toserba Yogya-Griya dan Pusat Perbelanjaan Kings

Kepatihan2a

Hari ini gue jalan-jalan ke Kota Kembang di Dalem Kaum. Seperti biasa, kegiatan rutin sebelum liburan, cari film dan cd yang banyak. Hehehe..Dan seperti biasa gue jalan kaki dari terminal Kebon Kelapa, sepanjang jalan Kepatihan, lewati Kings dan Yogya, trus nembus ke Dalem Kaum. Yang tidak biasa, hari ini jalan-jalan dan semua koridor toko sepanjang jalan ini penuh sesak! Kayaknya semua orang punya ide yang sama dengan gue, atau mereka sekalian belanja Lebaran. Hmm…Jalan kaki di sepanjang jalan yang penuh sesak itu, sesak dengan orang yang berjalan dan puluhan pedagang kaki lima yang memanfaatkan kesempatan untuk menangguk keuntungan. Pelan-pelan, dengan kamera digital di tangan, gue beringsut-ingsut berdesakan diantara orang-orang, sambil berusaha mengingat-ingat, beberapa minggu lalu, jalan Kepatihan ini bersih dari pedagang kakilima, terasa melegakan karena kita bisa menikmati jalur pedestrian (sebagai representasi ruang publik paling minimal) dengan nyaman. Namun, ternyata ada yang tidak nyaman karena tidak boleh berjualan di situ.

Sekarang, 5 hari menjelang lebaran, dorongan ekonomi yang mendesak tidak mampu ditolak bahkan oleh para petugas tramtib. Puluhan pedagang kakilima memenuhi kedua sisi jalan, mulai dari berjualan sandal, asesoris, pin, tas, sampai gorengan dan minuman segar dingin (Sosro tentunya!) di siang hari di bulan puasa ini bertebaran. ‘Keleran’ kalo istilahnya Irwin dan Pak Apep. Sambil terus berjalan beringsut-ingsut di antara tubuh-tubuh wangi dan berkeringat, gue lagi-lagi berpikir keras, apakah memang perwujudan public space yang sebenarnya adalah ruang ekonomi? Apakah memang setiap setiap jengkal dari ruang kosong di negeri ini harus dimanfaatkan demi meraih keuntungan? Apakah memang baru sebatas itu apresiasi kita terhadap ruang publik yang ada? Ataukah memang itu ciri khas budaya berdagang kita yang ditularkan oleh orang Arab dan etnis Tionghoa sejak beribu tahun yang lalu? Atau gejala apakah ini? Berpuluh pertanyaan bermunculan dalam kepala, sambil terus berusaha menerobos di antara kerumunan orang, mencoba memotong jalan lewat Kings. Hup, gue melompat ke dalam Kings yang ber-AC. Lumayan menyegarkan dan memintas jalan menuju Dalem Kaum. Tapi kenapa di dalam sini terasa lengang dan sepi? Hmm,..gejala apa lagi ini? Kenapa di luar sana orang berdesak-desakan demi membeli atau sekedar melihat-lihat barang dagangan di pinggir jalan, jauh dari keselamatan, sementara di dalam sini, di ruang berdagang yang sebenarnya, sepi pengunjung dan pembeli? Apakah ini berkaitan dengan melemahnya daya beli? Atau jangan-jangan memang tantangan dari bertawar-tawaran barang di pinggir jalan jauh lebih menggoda dibanding bertransaksi di ruang ber-AC? Ah,…kenapa otak gue gak berhenti bertanya…

Kota Kembang yang pusat penjualan film (DVD dan VCD serta CD) bajakan terbesar di Bandung juga penuh sesak. Bayangkan, ada lorong selebar cuma satu meter masih dimanfaatkan sebagai etalase pamer, alhasil, lebar lorong tinggal bersisa 60 senti! Untuk lewat 2 orang, berpapasan, sambil bermanuver miring-miring. Dan lagi-lagi ruang ini penuh sesak. Ah, kenapa orang-orang ini tidak lebih suka pergi ke toko Vertex (di Jalan Ambon) yang ber-AC dan punya barang yang sama! Lho, trus, kenapa gue ada di sini? Rasanya pertanyaan gue tadi mesti gue jawab dulu sendiri. Kenapa ya? Hmm,..gue bisa beralasan bahwa gue emang seneng suasana Kota Kembang yang berdesak-desakan, atau gue emang mau mengalami sendiri pengalaman urban yang sensasional, berbau keringat dan panas, memancing sekian banyak pertanyaan dalam kepala, sengaja mengalami petualangan menegangkan dari waswasnya pembeli di sini akan adanya razia. Atau emang gue tertarik iming-iming mendapatkan cakram DVD dengan harga 4000 perak? Ah, mungkin semua alasan itu benar. Buktinya, gue berkali-kali dan berkali-kali lagi balik ke sini, seolah-olah tanpa pengalaman bahwa di sini sesak dan penuh serta bau berbagai macam aroma. Padahal gue pernah datang ke sini trus ada razia, panik dan chaos, lalu lari kabur lewat pintu belakang. Nah!

“Economy is the most powerful driving force to architecture.” (Rem Koolhas)

Kepatihan2b

Ketersediaan ruang publik tentu akan dimanfaatkan oleh masyarakat sesuai dengan intensi atau hasrat kebutuhan paling dasarnya! DI negeri kita yang carut-marut ini, hasrat kebutuhan dasar adalah ekonomi, duit, duit dan duit! Mungkin itu yang membuat setiap jengkal ruang publik lalu termanfaatkan secara ekonomi, atau diberi harga dengan cara hukum rimba. Pernah terpikir bagaimana bahu jalan yang ditangkringi angkot lalu dijadikan ruang usaha oleh para preman calo penarik penumpang? Bahkan, bahu jalan yang lebarnya cuma sekianpuluh senti itu bisa jadi ruang ekonomi! Betapa survive-nya para pelaku ekonomi di negeri ini. Bukankah itu sangat mencengangkan?

Pada saat ekonomi negeri ini didominasi oleh jutaan pedagang kaki lima, pedagang eceran dan industri rumahan, apakah masuk akal pembangunan ruang retail (mewah) ber-AC yang terujud dalam puluhan bentuk arsitektur mal dan superblok? Hmm..satu pertanyaan lagi yang mungkin berat untuk dijawab. Apakah berarti selamanya penggunaan ruang publik di negeri miskin tapi jumlah pemilik Ferrari-nya terbanyak di Asia Pasifik ini akan selalu dilihat dari sisi ekonomi semata? Kapan kita punya kesempatan untuk menikmati keberadaan ruang publik dari segi kualitasnya, minimal bermesraan dengan kekasih kita seperti yang Irwin ceritakan soal Singapore? Apakah memang sejauh itu jarak peradaban budaya kita dengan negeri tetangga terdekat yang konon tanahnya dibentuk dari tanah negara kita itu? Hmm,..mungkin pernyataan-pertanyaan di atas terlalu melebih-lebihkan. Mungkin juga gue yang terlalu banyak berpikir. Gue berjalan pelan, masih beringsut-ingsut menjauhi Kota Kembang, matahari sudah condong di Barat, sementara aroma makanan dari tenda-tenda pinggir jalan mulai menggoda di waktu yang sedikit lagi Maghrib ini. Kaki terasa lemas juga, mungkin akibat terlalu banyak pertanyaan di dalam kepala?

Broadway Avenue at Cihampelas Walk = Public Domain or Completely Public Spaces?

Selasa, 25 Oktober 2005

Liverpool

Defined by its multiple public spaces, the approximately $40 million Fourth Grace development also encompasses an infrastructure  program that realigns the city with the waterfront.

“OPEN : new designs for public space” (Van Alen Institute, Edited By Raymond W.Gastil and Zoe Ryan)

Hmmm,..sore ini Ciwalk terasa sangat indah. Setiap kali gue nongkrong di Saint Cinnamon selalu begitu. Hari ini pertemuan Super-B yang keenam, atau yang kelima? Yang jelas, sore ini seperti biasanya Broadway Avenue selalu indah dengan lalulalangnya gadis-gadis nan cantik, sepasang orang tua mendorong kereta dorong bayinya, sepasang pemuda-pemudi menggandeng seekor anjing Chihuahua, satu keluarga besar lengkap dengan neneknya berjalan-jalan tak ketinggalan ceria suara anak-anak saling berkejaran. Siapa yang tak pernah ke tempat ini pasti menyangka yang gue ceritain itu dongeng belaka. Mungkin, tapi itu terjadi betulan, di Ciwalk, di Bandung. Dengan skala koridor yang sangat manusiawi, terlihat langsung langit biru gelap di angkasa, dengan udaranya yang sejuk dan tidak panas, dengan cericau burung-burung (walau hanya berasal dari speaker), dengan deretan pohon pinusnya di samping berm hijau, di belakang tempat duduk taman yang selalu terisi oleh pasangan-pasangan bercinta. Ah, terasa sangat indah dan menenangkan.

Ciwalk2

Mimpi gue untuk bisa merasakan ruang terbuka publik seperti ini akhirnya bisa tercerahkan, walau kita hanya punya satu Ciwalk. Tapi kita mesti berbangga hati, dimana lagi kita bisa melihat gadis-gadis cantik berkulit coklat, hitam dan berkulit putih juga pualam serta bermata kecil lalulalang dalam pakaian mode terbaru dengan aman dan nyaman, tanpa perasaan tertekan atau terintimidasi. Di ruang publik mana lagi? Segala strata sosial terasa lebur, tidak peduli apakah dia hanya anak SMA yang masih beroleh uang jajan, pelayan resto atau waiter (gue udah sering nongkrong di sini sejak masih jadi waiter), arsitek muda yang belum banyak uang, atau malahan eksekutif muda menenteng Powerbook Apple terbaru, sampai kakek-nenek usia lanjut memakai tongkat, semua lebur di sini. Di ruang terbuka publik, di bawah langit terbuka, dengan angin sepoi-sepoi yang berhembus, di negeri yang konon sedang kalut ini.

Ruang publik, adalah ruang yang diperuntukkan untuk orang umum, masyarakat, warga kota, dapat digunakan secara umum. Namun pada faktanya, banyak ruang publik yang tidak bisa dipakai oleh masyarakat umum, dengan berbagai macam alasan. Kebanyakan adalah alasan kepentingan ekonomi alias kapital. Kenapa rasanya berjalan di jalur pedestrian sepanjang Dago terasa tidak mengenakkan? 10 meter terasa nyaman, 15 meter ketemu dengan tiang listrik memalang tengah jalan, 20 meter mesti menyimpang ke arah jalan raya karena bertubrukan dengan tenda warung tempat jualan Indomie paling ramai se-Bandung Raya. Ah, emang alasan ekonomi selalu jadi alasan yang tepat demi pemerkosaan ruang publik. Contoh kecil, tapi itu nyata dan tak bisa disangkal.   Lain lagi masalah pemakaian dengan kenyamanan.

What are the charactheristic of ‘good’ public space? To what extent can good public space be artificially created?

(Marteen Hajer | Arnold Reijndorp on “In Search of New Public Domain”)

Bayangkan, researcher sekelas Marteen Hajer saja masih terus meredefinisi pertanyaan itu. Lalu bagaimana dengan definisi domain publik (public domain) yang juga terus mengalami perkembangan. Buat negeri-negeri Eropa yang punya sejarah panjang dalam tata ruang, pertanyaan ini bahkan bisa dijadikan bahan penelitian dan riset yang kalau dicetak bisa jadi buku setebal 300 halaman! Ingat saja “HiCat = HiperCatalunya ResearchTerritories” yang juga diterbitkan oleh IaaC+Metapolis. 

Ciwalk3

Cihampelas Walk merupakan salah satu kasus untuk pertanyaan serupa, apakah ruang publik ini benar-benar berhasil menjadi domain publik? Mungkin diperlukan ribuan diagram, jutaan pencatatan data dan belasan kali workshop untuk benar-benar menjawab pertanyaan itu secara ilmiah. Hmm,… berapa lama waktu yang kita perlukan? Apa nanti gak keburu Ciwalk-nya rubuh, atau hancur dijarah amuk sebagian massa (amit-amit jangan sampe terjadi..) yang berafiliasi terhadap kepentingan tertentu? Jawabannya hanya bisa ditemukan di hati masing-masing, di diri anda masing-masing, sebagai warga kota Bandung yang civilized, rasakanlah ruang publik ini dengan sadar hari, sadar ruang, kepekaan yang lebih. Dan rasakan bagaimana hati anda merasakan ekstasi dan kesenangan saat bisa menikmati kemewahan ruang terbuka yang aman dan nyaman, tanpa peduli strata sosial, tidak peduli apakah anda minum kopi di Starbucks atau hanya nongkrong di Saint Cinnamon, atau bahkan hanya berjalan-jalan tanpa membeli apa-apa, sekedar merasakan kesejukan suasana Ciwalk. Temen gue Irwin cerita, dia baru aja dari Singapore, dan merasakan banyak ruang-ruang publik yang memang disediakan untuk dipakai oleh umum. Betapa irinya kita dengan negeri tetangga yang lebih bisa me’manusia’kan warganya melalui penyediaan ruang publik yang menyenangkan.

Ah, apakah kita hanya akan selalu menunggu pemerintah atau pengembang besar menyediakan ruang-ruang seperti itu? Tentu jawabannya tidak! Di hadapan kita sudah banyak ruang-ruang alternatif (bahasa gue untuk menyebut ruang-ruang yang potensial jadi domain publik) yang bisa kita gunakan, kita pakai dan nikmati. Tunjukkan pada semua pihak bahwa penggunaan ruang-ruang alternatif sebagai sarana me’manusia’kan warga kota. Datang ke Common Room, nongkrong di jembatan Pasupati, jalan lewat koridor Borromeus kalau anda mau memotong dari Hasanuddin ke Dago, sejauh itu semua tidak mengganggu orang lain. Tunjukkan harga diri warga kota yang bermartabat dengan penggunaan ruang alternatif jadi domain publik. Jadikan ia tidak lagi sebagai ruang alternatif, tapi sebagai ruang primer, buat kita semua.

Mulailah, buka segala sekat itu, dan rasakan kasih dan cinta merasuk ke dalam hati. Jadikan diri kita sebagai warga kota yang baik, manusia Indonesia yang penuh welas asih! Wujudkanlah beribu-ribu Fourth Grace buat kita semua! Mulailah menikmati ruang publik! Viva urbanismo!

Saint Cinnamon Ciwalk,

Bersama Oky, Peter, Pak Apep, Mas Emil, Mbak Widi, Reza, Suang, Andre, Olive dan mahasiswa Unpar:Cai, Niko, Romi dan satu lagi cewe gue lupa namanya. Ups...